*ANTARA MASJID DAN PASAR*
Setiap jengkal tanah di dunia ini, sesungguhnya bisa menjadi masjid. Sebagaimana sabda Rasulullah Dari Abu Sa’id Al Khudri, dimana beliau bersabda,
الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبُرَةَ وَالْحَمَّامَ
“Seluruh bumi adalah masjid (boleh digunakan untuk shalat) kecuali kuburan dan tempat pemandian” (HR. Tirmidzi no. 317, Ibnu Majah no. 745, Ad Darimi no. 1390, dan Ahmad 3: 83. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Tapi kerap kali juga, masjid bisa berubah menjadi pasar. Semuanya itu sangat terkait dengan kualitas perbuatan yang terjadi di tempat itu.
Karenanya shalat di masjid haram itu jauh lebih baik 100 ribu kali dari shalat di masjid lainnya, sebagaimana sabda Nabi dari Jabir,
صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ
“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad 3/343 dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173.)
Mengapa? Sebab masjidil harom memiliki sejarah panjang, di mana padanya terekam kebaikan dan amal shalih orang-orang terbaik dari ummat ini yang jauh lebih besar, bila dibandingkan dengan mesjid manapun di dunia ini.
Sebaliknya, Nabi justru menyebut pasar sebagai tempat terburuk sebagaimana sabda Rasulullah,
أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا.
“Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar.” (HR. Muslim, no. 671, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Mengapa? Karena pasar kebanyakannya berisi aksi culas dan praktek penipuan yang kerap kali menghiasi di sekitarannya. Itulah dengan geram ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,
لَا يَتَّجِرْ فِي سُوقِنَا إلَّا مَنْ فَقِهَ أَكْلَ الرِّبَا .
“Janganlah seseorang berdagang di pasar kami sampai dia paham betul mengenai seluk beluk riba.” (Lihat Mughnil Muhtaj, 6/310)
Kita kemudian mulai mengerti kini, tentang sabda Rasulullah. Mengapa salah satu tanda bahwa hari kiamat kian dekat adalah pada saat masjid-masjid nan megah dan besar banyak dibangun dimana-mana.
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ
"Kiamat tidak akan terjadi hingga manusia bermegah-megahan dalam membangun masjid,” (HR Abu Dawud).
Sebab mesjid pada saat itu, tak ubahnya sebuah pasar yang berwujud rumah Allah. di mana tak ada jejak kebaikan di dalamnya kecuali hanya berisikan aksi yang rutin terjadi di pasar.
Mereka adalah orang-orang yang padanya Allah tidak berikan petunjuk, sehingga mereka lalai dari memakmurkan Rumah Allah. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At-Taubah [9]: 18).
Masjid hanya dijadikan sebagai tempat untuk meraih keuntungan dunia, berteransaksi jual beli, gibah, saling menjatuhkan, bahkan tempat untuk menanam kebencian antar sesama.
Merekalah yang Allah sebutkan dalam firmannya yang mulia dalam Al qur'an,
{وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ. لا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ}
“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan keburukan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu’min serta menunggu/membantu kedatangan orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan”, dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta. Janganlah kamu shalat dalam mesjid itu selama-lamanya” (QS At-Taubah: 107-108).
Fungsi terbaik masjid yang seharusnya menjadi tempat untuk menanam kesalihan dan kebaikan, justru dijadikan sebagai mesin untuk menghasilkan dosa dan aksi penipuan.
*Naser Muhammad
No comments:
Post a Comment